Menikah

Pertengahan 2004 mulai menjejakkan kaki di Jogja, menimba ilmu di sebuah universitas terbesar di Nusantara, perubahan yang sangat luarbiasa sekali dari seorang anak sekolahan yang tinggal di rumah orangtuanya menjadi seorang sosok mandiri dengan kebebasan nyaris sempurna disebut mahasiswa.

Kebebasan itu menyodorkan begitu banyak pilihan, kau ingin menjadi seorang superman, seorang tokoh besar, tidur hanya 4 jam (seperti orang Jepang) ato malah seperti Soekarno yang katanya hanya tidur 2 jam sehari. Tapi jika ingin seperti singa masai yang tidur 20 jam setelah makan, ato mau jadi kriminal yang kerjaanya NgeDugem trus ditawari jadi bandar hingga akhirnya bertemankan pak sipir penjara setiap harinya.
Bebas, dan menuntut kesiapan pribadi untk dapat menempuh jalan ketempat terbaik, yang dituntunkan maupun yang diimpikan.
Bak seorang katak dalam tempurung yang terkejut dengan luasnya dunia yang sebelumnya tidak pernah dilihatnya, keinginan mencoba, idealisme tinggi, mudah terpengaruh, dan memiliki semangat tinggi, itu ciri lain seorang mahasiswa baru yang kalau tidak hati-hati justru bisa menjerumuskannya. Kembali pada pilihan awal tadi, kau bisa terbang setinggi-tingginya, namun jua bisa terpuruk sedalam-dalamnya.

Beruntung diawal ke”virgin”an pikiranku langsung dicekoki hal-hal yang berbau “personal improvement”, ketika menemukan betapa mudahnya mendapatkan buku murah di Jogja, pameran buku yang hampir setiap bulan ada, berbagai training dan seminar yang banyak dan mudah ditemui, akses internet yang mudah dan murah. (maklum, dinegeri antah berantahku dulu hal-hal seperti ini sangat jarang sekali)

Dan asupan tentang peningkatan kualitas diri itu mengantarkan pada “pernikahan” di ujungnya, sebagai sebuah fase peningkatan atau booster yang sangat baik. Training oleh Reza M Syarief (Agustus 2004 klo gak salah) mengajarkan bagaimana kita harus menyusun hidup mundur dari tujuan akhir, jadi tetapkan tujuan terbesarnya dulu lalu liat kebelakang, apa yang bisa kita lakukan untuk mencapainya.

Tujuan terbesar tentu “Jannah” lalu kita mundur dalam 10 tahun mendatang apa yang akan kita lakukan untuk mencapai jannah, lalu mundur lagi 5 tahun yang akan datang apa yang kita lakukan untuk dapat menuju impian kita di 10 tahun tadi. Demikian seterusnya hingga ketemu jawaban apa yang haruskita lakukan saat ini.

Salah satu rantai dalam perjalanan menuju jannah alaku adalah menikah.

Selanjutnya dalam rantai itu mundur sebagai berikut gambaran kasarnya, aebelum menikah aku harus bisa jadi penulis, sebelum jadi penulis harus banyak baca, sebelum banyak baca harus punya banyak buku, sebelum punya buku maka aku harus beli buku. Itulah kesimpulan yan harus aku lakukan saat itu. Maka ditetapkan minimal sebulan harus ada 3 buku baru, klo sudah ada buku mau tak mau harus dibaca, dan mulailah pengembaraanku menjadi sang pembaca buku. Sebagai awal impian menikah.

Mengapa menikah begitu menjadi impianku? Banyak hal pula yang mempengaruhiku, selai training-training yang memang banyak menyinggung soal motivasi menikah, termasuk buku-buku yang menganjurkan nikah dini, serta sumber-sumber internet yang begitu beragam semakin emngokohkan impianku itu. Dan Islam memang menjanjikan begitu banyak keuntungan bagi orang yang menikah (salah satu sumber yang paling mempengaruhiku adalah file “proposal nikah” yang didapat dari dudung.net, banyak sumber-sumber hukum Qur’an dan hadist yang begitu memotivasi untuk menikah)

Aku tidak mengatakan saat itu aku sudah ingin menikah dalam artian saat itu juga, tapi ide visioner itu begitu mempengaruhi dan merubah pola fikirku, kita harus jadi visioner, melihat masa depan, menjadi pribadi yang berguna, itu yang ada dalam fikiranku saat itu. Intinya saat itu menikah bukanlah tujuan riil yang hendak dicapai (masih ingusan gak mungkin mikir nikah kan..??) hanya sebagai patokan, pemicu untuk bergerak.

Dan kuakui strategi itu cukup berhasil, dengan impian menikah aku bisa berubah menjadi seorang yang gak pernah baca buku (kecuali pelajaran sekolah) menjadi orang yang melahap segala jenis buku. Dengan pemicu menikah itu aku berusaha terus meningkatkan kualitas pribadiku, menjadi sosok yang berbeda, lebih visioner, lebih semangat…

Hanya pemicu, pada awalnya…

[Ini hanya tulisan pembuka serial “Journey to 5 Jan”.
Bagaimana perjalanan selanjutnya setelah penetapan misi itu? Bagaimana sesuatu yang hanya pemicu kemudian menjadi.... Dan yang lebih penting bagaimana proses realisasinya, atau bahkan setelah semua terwujud bagaimana pelaksanaan 5 Jan itu sendiri...?? Nantikan kelanjutannya]