Menjadi pemimpin berarti siap untuk diasingkan, menjauh dari orang-orang yang dahulu menjadi teman, bahkan yang tergolong dekat. Konsekuensi perubahan status dan mekanisme pencitraan kewibawaan.
Sebagai pemimpin yang harus dihormati, ditaati, atau bahkan ditakuti. Sehingga tercipta sistem yang stabil, teratur dengan senua bagian menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik.

Ada perantara diantara mereka, sebagai penghubung gap yang memang sengaja dicipta tadi, seseorang yang menempati posisi wakil ketua atau sekjend yang menjadi cukup dekat dengan staf lainnya, namun ia juga dekat dengan sang pemimpin, sehingga ia benar-benar berfungsi sebagai penghubung 2 pihak tadi.

Menjadi diasingkan dalam masa jabatannya, menjaga jarak, menjaga gap, dan menjadi sombong. Buruk kelihatannya, tapi konsekuensi kestabilan bisa tercipta. Dan itu sangat penting dalam mencapai tujuan bersama kita.

Siap menjadi pemimpin? Harus siap pula dengan segala konsekuensinya.

Kita harus siap, karena dunia selalu mmbutuhkan pemimpin, dan kita memang diciptakan untuk menjadi pemimpin.


[hanya sebuah teori kepemimpinan kecil, ada yang gak setuju??]

Related Post
  • Hukuman
  • Aku Percaya Engkau Benar
  • Surga Tanpa Pernah Shalat Sekalipun
  • Berhenti Sejenak
  • Management by Stress
  • Kiat Sukses Dalam Pergaulan
  • Kalau Terdesak Baru Nurut…
  • Salah Tidak Harus Selalu Dibenci
  • Di Istana Sultan Demak
  • Hal-Hal Yang Perlu Diketahui Seorang Pemimpin Yang Baik